Sejarah Nagari

Pada abad ke – 9 kedatangan penduduk adalah dari Lereng Gunung Merapi yaitu Pariangan Padang Panjang.

Tuo Ulayat Cancan Latieh yang mulo-mulo turun dari Pariangan Padang Panjang adalah dua orang tuo (oleh masyarakat dipanggil ‘Rang Kayo’, karena kaya dengan adat dan budaya. Yang seorang bergelar Dt. Perpatih Nan Sabatang dan yang satu lagi bergelar Dt. Perpatih Suanggi, kedua orang tersebut turun dari Pariangan Padang Panjang bersama dengan rombongan menuju ke Selatan dari Pariangan dan menempat di Aur Seriau setelah tiba ditempat itu maka beliau bersama rombongan sepakat membuat Cancan Latiah dan dibuat pemukiman yang waktu itu diberi nama Taratak Aur Seriau. Kemudian setelah semakin ramai sepakat pula Taratak dijadikan sebagai Koto yaitu Koto Kaciak. Salah seorang dari rang tuo tersebut yaitu Dt. Perpatih Nan Sabatang yang juga membawa rombongan melanjutkan perjalanannya menyelusuri Sungai dari Aur Seriau dan menempat di Guguk Longgung, disini juga dibuat Taratak dan Koto yang bernama Koto Baranjak, semasa itu Dt. Perpatih Nan Sabatang mendengar kabar bahwa ada sanak dan kemenakannya di daerah Aie Gamurah (Ulu Paliki), maka dibawalah ke Guguk Longgung tersebut dengan sebutan Orang Korong Godang, yang sebelumnya di Guguk Longgung sudah ada rajo mangarah.

Kemudian setelah berkembang juga di Koto Kociek dari Koto Baranjak maka sepakat pulalah mencari pemukiman yang lebih luas maka perkampungan ini dinamakan Koto Gadang.

Dalam perjalanan kedatangan Dt. Perpatih Nan Sabatang dan Dt. Perpatih Suanggi ini juga diikuti oleh tiga orang tuo yaitu Dt. Cumano yang menepat dipayo Batu, Dt. Jalelo di Tanjung Medan, dan Dt. Rang Kayo Bungsu di Muaro Kumani.

Kemudian dari itu turun pula seorang tuo (Rang Kayo) dari Pariangan Padang Panjang yang bergelar Dt. Paduko, beliau turun dari Pariangan Padang Panjang melalui Atar Taluk. Menyeberang dan menempat di Bikang bagian utara yang berdekatan dengan Ngarai Putieh yaitu batas Nagari bagian utara saat ini, dan    beliau    bertemu   dengan 2 orang tuo yang dari Delatan didekat sebatang kayu besar yang bernama Kayu Pogang, ketika itu ketiga rang kayo telah bersejarah tentang asal usul beliau masing-masing, yang sama-sama turun dari Pariangan Padang Panjang.

Dengan kedatangan satu orang rang kayo maka ada enam orang rang tuo. Kemudian ke-enam rang tuo tersebut berkumpul dirumah Dt. Perpatih Suanggi. Maka dibagilah wilayah yang bagiannya tersebut yaitu Gunung dek Dt. Perpatih Suanggi, Bukik dek Dt. Perpatih Nan Sabatang, Padang Nan Datar dek Dt. Paduko, Payo Nan Lowe dek Dt. Cinamo, Padang Nan Luas dek Dt. Jalelo, Sagalo Muaro dek Dt. Rang Kayo Bungsu. Itulah nan dinamokan Hutan untuk cucu kamanakan, itulah yang dinamakan pembagian sodang duduak dan mufakat, dan dibuat Nagari yang bernama Aur Kumani.

Kemudian secara diam-diam pergilah ke subarang dua orang tuo yaitu Dt. Jalelo dan Dt. Rang Kayo Bungsu dan Tabao Rombongannyo.

Maka hebohlah di Aur dan bermufakatlah Rang Tuo Nan Barampek siapa yang akan menjadi Penghulu Pucuk di Subarang (Kumanis). Maka terdapatlah kata sepakat yang menjadi pucuk di Subarang (Kumani) yaitu Dt. Cinamo dan nama Nagari tetap Aur Kumani.

Setelah itu tiga orang di Aur berbincang-bincang, maka sepakat pula untuk membagi ulayat dan dicari tempat yang layak sebagai tempat duduk (mufakat) dalam pembagi ulayat, yang pada waktu itu disepakati tempatnya di Air Timbu, dan dicari pula 3 buah batu untuk sandaran dan tempat itu diberi nama Batu Tigo.

Sebelum dilakukan pembagian sepakat pula ke 3 orang tuo tersebut terlebih dahulu untuk meninjau lokasi yang ada di Bahagian utara maka diselusuri dari kayu Pogang sampai ke Ngarai Putieh, baringin Sikuiek aur baririk ujung tanjung madok mudiek parik basiku dan batu bakakok yaitu perbatasan Nagari Tanjung Bonai Aur saat ini dengan Nagari Tigo Jangko, Taluk masing-masing Kecamatan Lintau Buo Kab. Tanah Datar.

Setelah selesai peninjauan lokasi tersebut maka kembali lagi ketempat bati tigo guna untuk dilanjutkan pembahagian Ulayat dengan kesepakatan sebagai berikut :

  1. Ulayat bahagian Selatan dari kayu pogang dikuasai oleh Dt. Perpatih Suanggi
  2. Ulayat bahagian Timur dari Pogang dikuasai oleh Dt. Perpatih Sabatang.
  3. Ulayat bahagian Utara dukuasai oleh Dt. Paduko.

Sedangkan ulayat bahagian Utara lebih luas dari ulayat bahagian selatan karena diperkirakan waktu itu pertambahan penduduk lebih banyak datang dari bahagian utara. Selanjutnya beliau menetapkan batas-batas Nagari sebagai berikut :

  1. Sebelah Utara berbatas dengan Ngarai Putieh, baringin sikuek sampai ke batu bakakok (Nagari Tigo Jangko dan Nagari Taluk Kecamatan Lintau Buo)
  2. Sebelah Selatan berbatas dengan mejan bacium, labuahjawi (Ngarai guguk dan Nagari Padang Lawas Kecamatan Koto VII)
  3. Sebelah Timur berbatas dengan Batu Bajanjang Nagari Padang Lawas
  4. Sebelah Barat berbatas dengan Batu Bakakok Kenagarian Taluk.

Kemudian dari itu turun pula 1 orang lagi orang Tuo (rangkayo) yang bagala Dt. Rajo Mangawal yang turun dari Pariangan Padang Panjang melalui Batu Bulat-Taluk sampai ditepi sinamar dan selanjutnya beliau langsung menyeberang dengan sebatang Aur yang menjulai dari seberang keseberang, setelah sampai beliau kesubarang, beliau melanjutkan perjalannya ke Utara dan basuo Kampung dengan dataran yang baik sehingga dinamai lokasi itu Kampung Suo, setelah itu beliau melanjutkan perjalannya ke utara dan bertemu pula dataran dan rawa sehingga beliau waktu itu pikirannya tatumbuk (tatobek) dan diberi nama lokasi itu sawah tobek karena tidak ada lagi dataran yang mungkin untuk digarap lagi.

Dengan adanya kedatangan Dt. Rajo Mangawal ini diketahui oleh Dt. Paduko yang waktu itu telah bertempat Koto Tanjung Bonai, maka kedatangan rangtuo ini tidak bisa diputuskan oleh Dt. Paduko dan dipanggillah Dunsanak yang berdua yang bertempat di Koto Gadang. Dan dilakukan mufakat ditempat yang paliang elok (dipiliang) dengan mencari 4 buah batu untuk tempat duduk bersandar.

Setelah diceritakan pembahagian rang Tuo yang bertiga tadi maka dimintalah oleh Dt. Rajo Mangawal, Lubuak lah yang paling topek dek ambo.

Kemudian ke empat orang Tuo tersebut telah sepakat pula untuk membuat Monografi Nagari dan sekaligus disepakati untuk menyusun suku, maka kesepakatan beliau barampek suku disepakati 4 suku yang dibagi atas 4 bahagian antara lain sbb :

  1. Suku Melayu yang dipegang oleh Datuk Perpatih Suanggi (Panghulu Pucuak)
  2. Suku Caniago yang dipegang oleh Datuk Perpatih Sabatang (Panghulu Pucuak)
  3. Suku Patopang yang dipegang oleh Datuk Paduko (Panghulu Pucuak)
  4. Suku Piliang yang dipegang oleh Datuk Rajo Mangawal (Panghulu Pucuak)

Dan disepakati pula untuk pembagian Teratak, dari teratak menjadi Koto terbagi menjadi Teratak 9 dan Koto 9 (Teratak Koto Sembilan, Sembilan dengan Sabiluru yang sekarang masuk Nagari Tamparungo) dengan rincian sebagai berikut :

Kok ketek dinamakan Teratak dan kok Gadang dinamakan Koto yaitu sbb:

Teratak terdiri dari :

  1. Teratak Tigo Guguak
  2. Teratak Longgang
  3. Teratak Guguak Mangkudu
  4. Teratak Balai-balai
  5. Teratak Ulu Paliki
  6. Teratak Parit
  7. Teratak Riak
  8. Teratak Puntian
  9. Teratak Sabiluru (Sekarang masuk Nagari Tamparungo)

Dan Koto Terdiri dari :

  1. Koto Kociek
  2. Koto Baranjak
  3. Koto Gadang
  4. Koto Pupuan
  5. Koto Puntian
  6. Koto Tongah
  7. Koto Tanjung Bonai
  8. Koto Tinggi
  9. Koto Baru

Adapun Koto Tanjung Bonai sebelumnya banyak ditumbuhi oleh kayu yang bernama kayu Bonai maka Koto ini bernama Koto Tanjung Bonai.

Pada abad ke 13 ada seorang Syehk yang bernama Syehk Ibrahim beliau berasal dari kudus di daerah kawa, beliau mencari suatu tempat yang ditemukan melalui sebuah mimpi, mimpi beliau adalah “disuatu tempat ada suatu benda ajaib yang kalau dipakai dan dipelihara akan banyak manfaatnya” setelah lama beliau berkelana beliau bermimpi lagi bahwa beliau belum sampai pada tempat yang dituju, mimpi beliau tempatnya ada kayu besar Sitopuang Bungkuak. Akhirnya beliau sampai disuatu tempat yang bernama Aur Siriau sesampainya dilokasi kayu Sitopuang Bungkuak beliau menemukan ada binatang besar yang keluar masuk lubang. Karena itulah tempat yang dituju dalam mimpinya dulu sambil berkata “Iko Bau” artinya barulah ketemu tempat yang dicari itu dan binatang itu dinamakan Kobau, semakin banyaknya keluar masuk binatang itu maka ditutuplah lubang itu dengan memancung sebatang aur dan ditancapkan disitu maka aur itu bernama Aur Duoto, sampai saat ini tempat tersebut dijadikan tempat berkaul ternak dan pintu kandang ternak harus menghadap ke Aur Duoto tersebut. Disini beliau menetap di Koto Gadang menginap waktu itu dirumah Datuk Perpatih Sabatang selama beliau meninjau keadaan penduduk yang waktu itu masyarakatnya makan Ular aluang, kelelawar, berjudi, penyabung yang tempatnya dibawah kayu pogang.

Setelah diketahui tentang perbuatan dari penduduk yang berada disekitar itu, maka timbullah Syehk Ibrahim untuk menyampaikan ajaran Islam dengan cara tipu muslihat, sehingga penduduk diajarkan membaca dua kulimah syahadat dan sewaktu penduduk akan pergi mandi ketempat sumber air yang ada disekitar mesjid Pincuran 7 saat ini, cara beliau menyampaikan ajaran kepada penduduk, sambil duduk diatas sebuah batu ditepi jalan kesumber air.

Berkat cara penyampaian dengan cara tersebut, maka masyarakat mau menerima ajaran itu dan kemudian dibangunlah Mesjid bersama-sama dan membendung sumber air tersebut dan dibuat Pincuran sebanyak 7 buah yang melambangkan kebesaran dan kesucian dari rang Tuo yang batujuah (Inyiek nan batujuah) dua buah Pincuran hulunya ada yang didekatkan dan dibahagian atas dipinggir jalan kemesjid, dekat itulah rumah Syehk Ibrahim yang dikenal dengan nama Inyiek Tanah Bato dan juga sering sebutannya Inyiek Parumahan, waktu itu Nagari Aur Kumani tetap satu. Dari sinilah berulangnya Inyiek Tanah Bato ke Sumpur Kudus dengan membawa satu ekor kerbau pembajak sawah.

Pada sekitar Abad 14 datanglah seorang raja bersama rombongan yang menyusuri batang sinamar, sesampainya di biaro kapalnya tersangkut batu ajaib, setelah didaratan raja menimbang batu ajaib tersebut dengan sebuah permata yang bernama “Janggi” dan raja memutuskan disinilah tempat bermukim yang baik yang bertempat di Tanjung Medan. Raja tersebut bernama Sultan Maharajo Dirajo atau lebih dikenal dengan Rajo Alam. Didalam perjalanan Rajo Alam mendapat sebuah telur yang setelah menetes ternyata itu telur buaya. Anak buaya tersebut dipelihara oleh anak rajo Alam yang diberi nama “Tumanggung”, rupanya setelah buaya besar membawa petaka dimana anak rajo Alam dimakam buaya. Setelah dikumpulkan hulubalang tidak ada yang berani membunuh buaya tersebut, maka dipanggillah oleh rajo alam rang Tuo (Inyiek) yang batujuah. Salah seorang mengusul yang sanggup untuk membunuh buaya itu ada seorang sakti yang tinggal didaerah Agang yang disebut Gunung nan Tongga (kayok) dan namun untuk menjeputnya tidak seorangpun yang berani dan yang menyangupi untuk menjeputnya adalah Intan Batuah. Menurut istrinya untuk membangunkan pandeka kayok dengan besi panas yang ditempelkan dibadannya. Sesampainya di istana pandeka kayok menyanggupinya, setelah buaya mati pandeka kayok diberi hadiah emas oleh rajo alam namun ditolak dengan halus, mendengar penolakan pandeka kayok tentang hadiah yang diberikan rajo alam berfikir dan diangkatlah sebagai Dubalang Rajo alam dan diberi wilayah yang tak lakang dek paneh dak lapuak dek hujan. Untuk keamanan kerajaan, rajo alam memagar tempat pemandian itu dengan ruyung yang didatangkan dari ibul (bukit bual). Setelah pemandian dipagar dengan ruyung maka kerajaan ini terkenal dengan Pagaruyung.

Dalam pada itu timbullah kekacauan di Rantau Kuantan dalam hal ini terlebih dahulu telah ditanya ilmu apa yang dimiliki oleh Dubalang Kayok maka dijawab ilmu yang saya pakai adalah sahabat nan anam belas. Maka untuk mengatasi kerusuhan di rantau kuantan yang ingin direbut oleh raja singiang-ngiang (raja jambi) rajo alam (rajo Pagaruyung) bersama Inyiek nan batujuah mengutus Dubalang kayok dengan 16 orang pilihan dari Nagari Aur Kumani. Sepulangnya dari rantau Kuantan setelah berhasil menaklukan rajo singiang-ngiang, dibantailah Kerbau yang tanduknya sebelah keatas dan sebelah kebawah maka sepakat Inyiek dengan rajo Alam semasa itu, dikarenakan rantau lah salasai Nagari lah aman maka dilakukan sumpah sotieh “digantuang tinggi dikalian dalam” maka ditumpahkanlah adat ka datuak nan 16 yang bertempat di kubang tigo baririk serta disusun tatanan adat dan pusoko serta dengan dibuatnya balai-balai Datuk nan anam belas. Dan Dubalang kayok diberi jabatan sebagai Rajo untuk rantau kuantan yang kurang oso (satu) dua puluh, dua puluh dengan muaro sijunjung dan menjadi Datuk di Nagari Aur maka gelarnya menjadi Datuak Rajo Dubalang maka diangkat menjadi adiek Bungsu Niniek kakak tuo Datuak nan 16.

Sebagai rajo kuantan Datuak Rajo Dubalang tidak membangun istana didaerah kekuasaannya, tetapi datang kesana sewaktu diperlukan saja dan ditetapkan yang mewakilinya untuk melaksanakan dan menjalankan roda Pemerintahan.

Seiring dengan perjalanan waktu para pembesar Istana Pagaruyung berpendapat dengan kejadian yang dialami raja dengan kematian anaknya maka kerajaan harus dipindahkan kelokasi lain yang lebih baik, karena itu raja bersama pengikut mencari tempat maka ditemukanlah didaerah dikaki bukit batu patah atau Pagaruyung sekarang.

Seiring dengan perpindahan rajo alam maka Inyiek nan batigodikumani juga membuat balai-balai adat dan di Koto Tanjung Bonai juga mendirikan balai-balai adat Datuak nan balimo. Dengan sendirinya Nagari bernama Nagari Aur dan Nagari Kumani.

Nagari Aur menganut sistem adat :

Pisang kolek-kolek hutan

Pisang Timbatu yang bagota

Samo babungo kaduonyo

Bodi Caniago bukan

Koto Piliang bukan

Samo baguno kaduonya.

Susunan adat dan pusoko merupakan sebuah perahu yaitu pakai haluan dan kumidi.

Haluan adalah Dt. Perpatih Suanggi (urusan Syarak)

Kamudi adalah Dt. Perpatih Sabatang (urusan Adat)

Dan Nagari ini berbentuk Nagari kesatuan yaitu baniniek nan barampek balimo dengan Datuak Rajo Dubalang dengan susunan pusoko sebagai berikut :

  1. Pusoko nan sapuluah di ate (pusako Tinggi)

Yang terdiri dari :

Niniek barampek balimo jo Datuak Rajo Dubalang

Malin barampek balimo jo Pokieh Kali

Badatuak nan anam belas dan badatuak nan balimo

Badatuak Panghulu Andiko

Balai-balai adatnya merupakan balai-balai yang terpakai di Bodi Caniago yaitu berlabuah kudo di tongah-tongah sebagai pamocah ruang.

Kebesaran dari masing-masing pusoko sebagai berikut :

  1. Pusoko nan sapuluah diate untuak ka pai tampek batanyo kembali tempat babarito oleh Datuak nan 16 (melalui Monti Gadang)
  2. Datuak nan 16 : yang diberi tugas oleh Pusoko nan 10 di ate untuk menjalankan Adat dan Pusoko yang berlaku di Nagari Aur, Adat salingka Nagari (biang cabiek gantiang putuih) dalam penyelesaian perkara Adat dan Datuak 16 dikepalai oleh 4 orang Datuak Sondi Adat, didalam tugas ujung jari sambung lidah dari nan 10 di ate adalah Monti Gadang
  3. Datuak nan 5 (balimo) : Datuak nan balimo berada di Koto Tanjung Bonai yang bertugas apabila terjadi masalah di Koto Tanjung Bonai dalam penyelesaiannya oleh Datuak nan 5 (balimo), kiranya belum dapat penyelesaiannya dinaikan ke Datuak nan 16 disitu biang cabiek gantiang putuih oleh Datuak nan 16
  4. Datuak Panghulu Andiko : diberi kekuasaan memminpin adat dengan syarak dikampuang masing-masing beserta dengan empat jinninya.

Tahun 1837 rakyat Nagari Aur pernah membantu rakyat Lintau Buo dan 50 Kota dengan beras dan makanan melalui sebuah bukit antara Nagari Buo dengan Lubuk Jantan, bukit yang bernama bukik guliang beras karena dari sana beras digulingkan untuk makanan angkatan perang Paderi dan rakyat Lintau Buo.

Kemudian pada tahun 1918 Nagari ini dirobah namanya menjadi Nagari Tanjung Bonai Aur dan semasa itu Nagari ini berlareh ke Buo.

Tahun 1918 selesai perang dunia pertama daerah Tk II Tanah Datar dan Swl/Sijunjung kekurangan makanan, maka oleh Contraktiur Sijunjung dipaksakan pada rakyat Tanjung Bonai Aur untuk menjual padi untuk makanan rakyat tersebut diatas.

Pada waktu Clasehe ke II tahun 1948-1949 selama 3 bulan di Nagari Tanjung Bonai Aur ditempatkan Pemerintah PDRI staf Gubernur militer Sumatera Tengah dan staf Bupati Militer swl/Sijunjung yaitu dari bulan Januari s/d April 1949 dan tanggal 30 Juni 1949 Nagari Tanjung Bonai Aur dibumi hanguskan oleh Kerajaan Belanda.

Puluhan rumah Adat dan rumah lainnya dibakar dan puluhan ternak ditembaki oleh tentara Belanda.

Pada tanggal 18 Februari 1949 di Mesjid Pincuran Tujuh Koto Gadang dilaksanakan pembentukan Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, pada waktu itu oleh Gubernur Sumatera Tengah Tengku Muhammad Hasan menunjuk Sulaiman Tantuah Bagindo Ratu sebagai kurir sekaligus sebagai Bupati Sawahlunto Sijunjung karena jabatan Bupati militer sedang kosong (Bupati sebelumnya Jamaris Yahya ditangkap Belanda). Pada waktu itu Sulaiman Tantuah Bagindo Ratu selaku Kurir mangantarkan surat kepada Mr. Syafrudin Prawira Negara ke pusat Pemerintahan di Suliki waktu itu bermalam dirumah guru Syukur di Koto Gadang. Dalam rangka Kabupaten Tanah Datar dibagi dua yaitu Kab Sawahlunto/ Sijunjung dan Kabupaten Tanah Datar.

Kemudian 3 bulan menjabat Bupati Sulaiman Tantuah Bagindo Ratu ditarik ke pusat Pemerintahan PDRI (Koto Tinggi Payakumbuh)

Kemudian dalam pelaksanaan musyawarah Pemerintahan Kabupaten yang dilaksanakan di Mesjid Pincuran Tujuah Koto Gadang pada tanggal 18 Februari 1949 dan selanjutnya Gubernur sewaktu itu telah mengangkat seorang tokoh masyarakat asal putra daerah yaitu Jarjis Bebas Tani sebagai Bupati Swl/Sijunjung.

Pada bulan Maret 1949 rapat dilanjutkan di Surau Pincuran Rodah dan sebelumnya di Surau Maco masing-masing surau tersebut milik Dt. Monggung dan Engku Oyok. Kemudian dilanjutkan dengan pembentukan kewedanaan 3 dan Kecamatan 5 buah, Kecamatan Sumpur Kudus dengan Camatnya Rifa’I Kantor di Tanjung Bonai Aur. Waktu itu dihadiri oleh para Menteri dalam rangka PDRI : Mr Syafrudin Prawira Negara (Presiden PDRI), Tengku Muhammad Hasan        (Gubernur Sumatera Tengah),       Ir. Sitompul Menteri (Pekerjaan Umum), Ir. Indra Jata (Menteri Perhubungan).

Tahun 1952 Kantor Camat Sumpur Kudus dipindahkan ke Kumanis sampai sekarang.

Pada tahun 1965 dilakukan renovasi terhadap Mesjid Pincuran Tujuh dari memakai tonggak kayu menjadi permanen.

Tahun 1983 oleh Pemerintah Kabupaten Swl/Sijunjung dengan Bupatinya Kol. Noer Bahri Pamuncak di bangun Tugu Monumen Hari Jadi Kabupaten Swl/Sijunjung yang bertempat di Koto Gadang Kenagarian Tanjung Bonai Aur yang lokasinya tidak jauh dari Mesjid Pincuran Tujuh.

Facebook Comments