UPAYA PERLINDUNGAN ANAK DI TANJUNG BONAI AUR

Perlindungan Anak termasuk ke dalam Isu Strategis Perkembangan Negara Bangsa Indonesia hari ini.Pemerintah merasa perlu melakukan upaya demi upaya perlindungan bagi generasi penerus Bangsa.Dengan salah satu alasan, para anakkita hari ini yang akan melanjutkanestafet kemajuan bangsa di hari depan. Maka sudah seharusnya para generasi penerus diselamatkan dari upaya-upaya kekerasan yang akan menimbulkan trauma dan semakin hari semakin menghantui praktek kehidupan.

Selasa, 17 Desember 2019, Pemerintah Nagari Tanjung Bonai Aur melaksanakan Penyuluhan Perlindungan Anak di Lantai II Kantor Wali Nagari Tanjung Bonai Aur. Seolah menjawab salah satu tantangan pengembangan kemajuan Negara saat ini. Pemerintah Tanjung Bonai Aur mengundang Bapak Sukardi dari Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Sijunjung sebagai pemateri pada acara tersebut. Keikutsertaan peserta kegiatan yang berfokus pada para kader PKK Nagari dan PKK Jorong, menjadi alasan kuat Wali Nagari (Adam, A.Ma) bahwa pemahaman akan kekerasan terhadap anak harus dan bisa di transfer (Transfer Knowledge) kepada Masyarakat oleh para Kader.

Kesempatan yang didapat Sukardi sebagai pemateri, beliau memanfaatkan sebaik mungkin. Sebelum berdiskusi dengan para peserta, Sukardi mengucapkan terima kasih kepada Pemerintahan Tanjung Bonai Aur yang telah mau melaksanakan kegiatan seperti ini ditingkat Nagari. Upaya yang dilakukan Pemerintahan Tanjung Bonai Aur selaras dengan apa yang dicita-citakan Pemerintah Kabupaten Sijunjung yang tengah berusaha membawa Sijunjung menjadi Kabupaten Layak Anak.

Sukardi menjelaskan, terdapat beberapa hal dasar yang mesti kita pahami dalam upaya Perlindungan Anak. Diantaranya sebagai berikut :
1. Kekeraan adalah Perbuatan yang dapat meninggalkan bekas dalam bentuk fisik maupun Psikis.
2. Keluarga adalah semua manusia yang hidup dan tinggal dirumah kita.
3. Anak adalah manusia sejak janin didalam kandungan sampai berumur 18 Tahun.

Disampin hal dasar tentang upaya perlindungan anak. Sukardipun menyampaikan beberapa faktor pendukung terjadinya kekerasan terhadap anak dan Perempuan, diantaranya :
1. Ekonomi.
2. Teknologi/Media Sosial.
3. Pendidikan.
4. Terkikisnya budaya lokal dalam praktek kehidupan.

Hari ini Pemanfaatan teknologi yang salah menjadi penyumbang besar terjadi kekerasan terhadap perempuan dan Anak. Terdapat ketidakbijakan para orang tua dalam penggunaan media sosial dan pendampingan penggunaan smartphone/HP oleh anak. Orang tua belum jeli mendampingi anak menyalurkan rasa ingin tahunya.

Diakhir pembahasan, Sukardi menyampaikan upaya Dinas Sosial Perlindungan Anak dan Perempuan dalam melindungi korban-korban kekerasan. Jikalau ada diantara keluarga kita yang menjadi korban kekerasan, silahkan lapor kepada kita. Kita Sudah menyiapkan skema terbaik pendampingan hukum untuk perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan. Mulai dari proses pendampingan proses pendampingan, bantua hukum, dan biaya medis semuanya sudah kita siapkan dengan gratis.(Aiba)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan